<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pro 4 RRI Semarang</title>
	<atom:link href="http://pro4.rrisemarang.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pro4.rrisemarang.com</link>
	<description>Pendidikan &#38; Budaya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 13 Oct 2011 03:32:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Angklung</title>
		<link>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/angklung/</link>
		<comments>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/angklung/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 03:32:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusuf.aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pamer]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[angklung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pro4.rrisemarang.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_54" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/10/angklung1.jpg"><img class="size-medium wp-image-54" title="angklung1" src="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/10/angklung1-300x288.jpg" alt="" width="300" height="288" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd"></dd>
</dl>
</div>
<p>Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.Angklung terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak November 2010.</p>
<p><strong>Asal-usul</strong></p>
<p>Anak-anak Jawa Barat bermain angklung di awal abad ke-20.</p>
<p>Tidak ada petunjuk sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.</p>
<p>Catatan mengenai angklung baru muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 sampai abad ke-16). Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). Masyarakat Baduy, yang dianggap sebagai sisa-sisa masyarakat Sunda asli, menerapkan angklung sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Permainan angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.</p>
<p>Jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen). Tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk bilah (wilahan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.<br />
Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.</p>
<p>Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.</p>
<p>Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.<br />
Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.</p>
<p><strong>Angklung Kanekes</strong></p>
<p>Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.</p>
<p>Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain: Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler, Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang. Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.</p>
<p>Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.</p>
<p>Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.</p>
<p><strong>Angklung Dogdog Lojor</strong></p>
<p>Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan jakarta, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.</p>
<p>Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan Pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung besar. Keempat buah angklung ini mempunyai nama, yang terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang.</p>
<p>Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Papanganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung tetap.</p>
<p><strong>Angklung Gubrag</strong></p>
<p>Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).<br />
Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.</p>
<p><strong>Angklung Badeng</strong></p>
<p>Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen, belajar agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan kesenian badeng.</p>
<p>Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, serta 1 kecrek. Teksnya menggunakan bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya sekarang digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks memuat nilai-nilai Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain menyajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.<br />
Lagu-lagu badeng: Lailahaileloh, Ya’ti, Kasreng, Yautike, Lilimbungan, Solaloh.</p>
<p><strong>Buncis</strong></p>
<p>Buncis merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan, di antaranya terdapat di Baros (Arjasari, Bandung). Pada mulanya buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang berhubungan dengan padi. Tetapi pada masa sekarang buncis digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan dengan semakin berubahnya pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal berbau kepercayaan lama. Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi, karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan dengan itu tempat-tempat penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) mulai menghilang dari rumah-rumah penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.</p>
<p>Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle&#8230;, dst. Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini dinamakan buncis.</p>
<p>Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok. Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari 1 talingtit, panembal, dan badublag. Dalam perkembangannya kemudian ditambah dengan tarompet, kecrek, dan goong. Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagu buncis di antaranya: Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, Mega Beureum. Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini oleh wanita khusus untuk menyanyi.</p>
<p>Dari beberapa jenis musik bambu di Jawa Barat (Angklung) di atas, adalah beberapa contoh saja tentang seni pertunjukan angklung, yang terdiri atas: Angklung Buncis (Priangan/Bandung), Angklung Badud (Priangan Timur/Ciamis), Angklung Bungko (Indramayu), Angklung Gubrag (Bogor), Angklung Ciusul (Banten), Angklung Dog dog Lojor (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong, Garut), dan Angklung Padaeng yang identik dengan Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis, yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima (salendro atau pelog) oleh Daeng Sutigna alias Si Etjle (1908—1984) diubah nadanya menjadi tangga nada Barat (solmisasi) sehingga dapat memainkan berbagai lagu lainnya. Hasil pengembangannya kemudian diajarkan ke siswa-siswa sekolah dan dimainkan secara orkestra besar.</p>
<p>(wikipedia)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/angklung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ki Ageng Pandanaran</title>
		<link>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/ki-ageng-pandanaran/</link>
		<comments>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/ki-ageng-pandanaran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 03:14:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusuf.aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Crita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Pamer]]></category>
		<category><![CDATA[ki ageng pandanaran]]></category>
		<category><![CDATA[pandanaran]]></category>
		<category><![CDATA[semarang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pro4.rrisemarang.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Ki Ageng Pandanaran atau bernama asli Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sunan Bayat atau Sunan Tembayat adalah Bupati Kedua Semarang (kini Kota Semarang), Jawa, Tengah Indonesia. Selain sebagai kepala pemerintahan, ia juga dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam yang sakti. Bagaimana sepak terjang Ki Ageng Pandanaran menjalankan tugas-tugas pemerintahan sekaligus menyebarkan agama Islam ke masyarakat Jawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_50" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/09/makam-ki-ageng-pandanaran.jpg"><img class="size-medium wp-image-50" title="makam-ki-ageng-pandanaran" src="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/09/makam-ki-ageng-pandanaran-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd"></dd>
</dl>
</div>
<p>Ki Ageng Pandanaran atau bernama asli Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sunan Bayat atau Sunan Tembayat adalah Bupati Kedua Semarang (kini Kota Semarang), Jawa, Tengah Indonesia. Selain sebagai kepala pemerintahan, ia juga dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam yang sakti. Bagaimana sepak terjang Ki Ageng Pandanaran menjalankan tugas-tugas pemerintahan sekaligus menyebarkan agama Islam ke masyarakat Jawa Tengah? Ikuti kisahnya dalam cerita Ki Ageng Pandanaran berikut!</p>
<p>* * *</p>
<p>Alkisah, sekitar abad ke-16 M., hiduplah seorang bupati yang bernama Pangeran Mangkubumi yang memerintah di daerah Semarang. Ia adalah putra dari Bupati Pertama Semarang Harya Madya Pandan. Sepeninggal ayahandanya, Pangeran Mangkubumi menggantikan kedudukan sang ayah sebagai Bupati Kedua Semarang dengan gelar Ki Ageng Pandanaran. Ia diangkat menjadi kepala pemerintahan Semarang pada tanggal 2 Mei 1547 M. atas hasil perundingan antara Sutan Hadiwijaya (penasehat Istana Demak) dengan Sunan Kalijaga.</p>
<p>Sebagai kepala pemerintahan, Ki Ageng Pandanaran melanjutkan usaha yang telah dirintis oleh sang ayah. Di sela-sela kesibukannya mengurus tugas-tugas pemerintahan, ia juga giat mengembangkan kegiatan-kegiatan keagamaan untuk membina rakyatnya. Kegiatan tersebut di antaranya mengadakan pengajian secara rutin, menyampaikan ceramah-ceramah melalui khotbah Jumat, serta mengembangkan pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah. Dengan demikian, ia dianggap telah berhasil menjalankan tugas-tugas pemerintahan dengan baik dan patuh kepada ajaran-ajaran Islam seperti mendiang ayahnya, sehingga rakyatnya pun hidup makmur dan damai.</p>
<p>Namun, sifat manusia dapat saja berubah setiap saat. Demikian pula Ki Ageng Pandanaran sebagai seorang manusia. Keberhasilan yang telah dicapai membuatnya lupa diri. Sifatnya yang dulu baik tiba-tiba berubah menjadi congkak, sombong, dan kikir. Ia senang mengumpulkan harta untuk kemewahan. Kehidupan mewah itu pun membuatnya lalai terhadap tugas-tugasnya, baik sebagai kepala pemerintahan maupun pengembang agama Islam. Ia tidak pernah lagi memberikan pengajian dan ceramah kepada rakyatnya. Demikian pula, ia tidak pernah merawat pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah.</p>
<p>Mengetahui sikap dan perilaku Ki Ageng Pandanaran tersebut, Sunan Kalijaga segera memperingatkannya dengan cara menyamar sebagai penjual rumput. Dengan kecerdikannya, sang sunan menyisipkan nasehat-nasehat kepada sang bupati pada saat menawarkan rumputnya.</p>
<p>Suatu hari, datanglah Sunan Kalijaga ke kediaman Ki Ageng Pandanaran dengan mengenakan pakaian compang-camping layaknya seorang tukang rumput. Di sela-sela menawarkan rumputnya, sang sunan menasehati Ki Ageng Pandanaran agar tidak terbius oleh kemewahan dunia.</p>
<p>“Maaf, Tuan! Sebaiknya Tuan segera kembali ke jalan yang benar dan diridhoi Allah SWT!” ujar Sunan Kalijaga yang menyamar sebagai penjual rumput.</p>
<p>“Hai, tukang rumput! Apa maksudmu menyuruhku kembali ke jalan yang benar? Memang kamu siapa, sudah berani menceramahiku?” tanya Ki Ageng Pandanaran dengan nada menggertak.</p>
<p>“Maaf, Tuan! Saya hanyalah penjual rumput yang miskin. Hamba melihat Tuan sudah terlalu jauh terlena dalam kebahagiaan dunia. Saya hanya ingin memperingatkan Tuan agar tidak melupakan kebahagiaan akhirat. Sebab, kebahagiaan yang abadi adalah kebahagiaan akhirat,” ujar si penjual rumput.</p>
<p>Mendengar nasehat itu, Ki Ageng Pandanaran bukannya sadar, melainkan marah dan mengusir si penjual rumput itu. Meski demikian, si penjual rumput tidak bosan-bosannya selalu datang menasehatinya. Namun, setiap kali dinasehati, Ki Ageng Pandanaran tetap saja tidak menghiraukan nasehat itu. Khawatir perilaku penguasa daerah Semarang itu semakin menjadi-jadi, Sunan Kalijaga menunjukkan kesaktiannya.</p>
<p>“Wahai Bupati yang angkuh dan sombong! Ketahuilah, harta yang kamu miliki tidak ada artinya dibandingkan dengan harta yang aku miliki,” kata penjual rumput itu.</p>
<p>“Hai, tukang rumput! Kamu jangan mengada-ada! Buktikan kepadaku jika kamu memang orang kaya!” seru Ki Ageng Pandanaran.</p>
<p>Akhirnya, Sunan Kalijaga menunjukkan kesaktiannya dengan mencangkul sebidang tanah. Setiap bongkahan tanah yang dicangkulnya berubah menjadi emas. Ki Ageng Pandanaran sungguh heran menyaksikan kesaktian penjual rumput itu. Dalam hatinya berkata bahwa penjual rumput itu bukanlah orang sembarangan.</p>
<p>”Hai, penjual rumput! Siapa kamu sebenarnya?” tanya Ki Ageng Pandanaran penasaran bercampur rasa cemas.</p>
<p>Akhirnya, penjual rumput itu menghapus penyamarannya. Betapa terkejutnya Ki Ageng Ki Ageng Pandanaran ketika mengetahui bahwa orang yang di hadapannya adalah Sunan Kalijaga. Ia pun segera bersujud seraya bertaubat.</p>
<p>“Maafkan, saya Sunan! Saya sangat menyesal atas semua kekhilafan saya selama ini. Jika Sunan tidak keberatan, izinkanlah saya berguru kepada Sunan!” pinta Ki Ageng Pandanaran.</p>
<p>“Baiklah, Ki Ageng! Jika kamu benar-benar mau bertaubat, saya bersedia menerimamu menjadi murdiku. Besok pagi-pagi, datanglah ke Gunung Jabalkat! Saya akan menunggumu di sana. Tapi ingat, jangan sekali-kali membawa harta benda sedikit pun!” ujar Sunan Kalijaga mengingatkan.</p>
<p>Dengan tekad kuat ingin belajar agama, Ki Ageng Pandanaran akhirnya menyerahkan jabatannya sebagai Bupati Semarang kepada adiknya. Setelah itu, ia bersama istrinya meninggalkan Semarang menuju Gunung Jabalkat. Namun, ia lupa mengingatkan istrinya untuk tidak membawa harta benda sedikit pun. Naluri sebagai seorang wanita, sang istri memasukkan seluruh perhiasan dan uang dinarnya ke dalam tongkat yang akan di bawanya.</p>
<p>Dalam perjalanan, sang istri selalu tertinggal jauh di belakang suaminya karena keberatan membawa tongkatnya yang berisi harta benda. Ki Ageng Pandanaran pun baru menyadari hal tersebut setelah mendengar istrinya berteriak meminta pertolongan.</p>
<p>“Kangmas, tulung! Wonten Tyang salah tiga!” artinya “Kangmas, tolong! Ada tiga orang penyamun!”</p>
<p>Mendengar teriakan itu, Ki Ageng Pandanaran segera berlari menolong istrinya. Begitu tiba di dekat istrinya, ia mendapati tiga orang penyamun sedang berusaha merebut tongkat istrinya. Dengan perasaan marah, ia menegur ketiga penyamun itu.</p>
<p>“Hai, manusia! Mengapa kamu nekad seperti kambing domba!” seru Ki Ageng Pandanaran melihat sikap kasar penyamun itu.</p>
<p>Sseketika itu pula, wajah pemimpin penyamun yang bernama Sambangdalan berubah menjadi wajah domba. Rupanya, sejak direstui menjadi murid Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandanaran memiliki kesaktian yang tinggi. Ucapan yang keluar dari mulutnya menjadi sakti mandraguna. Melihat kesaktian itu, para penyamun tersebut menjadi ketakutan. Sambangdalan pun bertaubat dan meminta agar wajahnya dikembalikan seperti semula. Akhirnya, Ki Ageng Pandanaran pun memaafkan mereka. Meski demikian, wajah pemimpin penyamun itu tetap seperti domba dan kemudian menjadi pengikut Ki Ageng Pandanaran yang dikenal dengan nama Syekh Domba.</p>
<p>Setelah itu, Ki Ageng Pandanaran bersama sang istri melanjutkan perjalanan. Tak beberapa lama kemudian, tibalah mereka di Gunung Jabalkat. Kedatangan mereka disambut baik oleh Sunan Kalijaga. Sejak itulah, Ki Ageng Pandanaran berguru kepada Sunan Kalijaga.</p>
<p>Ki Ageng Pandanaran seorang murid yang cerdas dan rajin. Berkat kecerdesannya, ia ditugaskan untuk menyiarkan agama Islam di sekitar daerah tersebut. Ia pun mendirikan sebuah perguruan di Gunung Jabalkat. Ajaran Ki Ageng Pandanaran yang paling menonjol dikenal dengan istilah Patembayatan, yaitu kerukunan dan kegotongroyongan. Setiap orang yang datang untuk memeluk agama Islam harus mengucapkan Sahadat Tembayat. Berkat ajaran Patembayatan, ia juga berhasil mendirikan sebuah masjid di Bukit Gala.</p>
<p>Selain pengetahuan agama, Ki Ageng Pandanaran juga mengajarkan cara bercocok tanam dan cara bergaul dengan baik kepada penduduk sekitarnya. Setelah itu, ia pun menetap di Jabalkat hingga akhir hayatnya. Daerah Jabalkat dan sekitarnya sekarang dikenal dengan nama Tembayat atau Bayat. Itulah sebabnya ia diberi gelar Sunan Tembayat atau Sunan Bayat. Hingga kini, makam Ki Ageng Pandanaran dapat ditemukan di atas Bukit Cakrakembang di sebelah selatan bukit Jabalkat, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.</p>
<p>* * *</p>
<p>Demikian cerita Ki Ageng Pandanaran dari daerah Klaten, Jawa Tengah, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori cerita sejarah yang mengandung pesan-pesan moral. Salah satunya adalah bahwa jangan sampai kemewahan duniawi membuat kita lupa diri seperti Ki Ageng Penandaran. Oleh karena sibuk mengejar kemewahan duniawi, akhirnya ia lupa pada kehidupan akhirat yang kekal. Namun, sejelek-jelek perbuatan seeorang, jika ia segera bertaubat, maka Tuhan akan mengampuni dan manusia pun akan memaafkannya. Berkat kesadarannya ingin cepat bertaubat, Ki Ageng Pandanaran direstui menjadi murid Sunan Kalijaga hingga akhirnya menjadi seorang sunan penyebar agama Islam di Jawa Tengah pada masa lalu dan terus dikenang hingga saat ini.</p>
<p><a href="http://ceritarakyatnusantara.com">sumber </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/ki-ageng-pandanaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ki Nartosabdho</title>
		<link>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/ki-nartosabdho/</link>
		<comments>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/ki-nartosabdho/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2011 07:07:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusuf.aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[dalang]]></category>
		<category><![CDATA[ki nartosabdho]]></category>
		<category><![CDATA[nartosabdho]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pro4.rrisemarang.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Ki Nartosabdo (lahir di Klaten, 25 Agustus 1925 – meninggal di Semarang, 7 Oktober 1985 pada umur 60 tahun) adalah seorang seniman musik dan dalang wayang kulit legendaris dari Jawa Tengah, Indonesia. Salah satu dalang ternama saat ini, yaitu Ki Manteb Soedharsono mengakui bahwa Ki Nartosabdo adalah dalang wayang kulit terbaik yang pernah dimiliki Indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_45" class="wp-caption alignleft" style="width: 239px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/09/ki-narto-sabdho.jpg"><img class="size-medium wp-image-45" title="ki-narto-sabdho" src="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/09/ki-narto-sabdho-229x300.jpg" alt="" width="229" height="300" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd"></dd>
</dl>
</div>
<p>Ki Nartosabdo (lahir di Klaten, 25 Agustus 1925 – meninggal di Semarang, 7 Oktober 1985 pada umur 60 tahun) adalah seorang seniman musik dan dalang wayang kulit legendaris dari Jawa Tengah, Indonesia. Salah satu dalang ternama saat ini, yaitu Ki Manteb Soedharsono mengakui bahwa Ki Nartosabdo adalah dalang wayang kulit terbaik yang pernah dimiliki Indonesia dan belum tergantikan sampai saat ini.</p>
<p>Nama asli Ki Nartosabdo adalah Soenarto. Merupakan putra seorang perajin sarung keris bernama Partinoyo. Kehidupan masa kecilnya yang serba kekurangan membuat Soenarto putus sekolah dalam pendidikan formalnya, yaitu Standaard School Muhammadiyah atau SD 5 tahun.</p>
<p>Kehidupan ekonomi yang serba sulit membuat Soenarto bekerja membantu pendapatan keluarga melalui bakat seni yang ia miliki. Antara lain ia pernah menjadi seorang pelukis, juga sebagai pemain biola dalam orkes keroncong Sinar Purnama. Bakat seni tersebut semakin berkembang ketika Sunarto dapat melanjutkan sekolah di Lembaga Pendidikan Katolik.</p>
<p>Pada tahun 1945 Soenarto berkenalan dengan pendiri grup Wayang Orang Ngesti Pandowo, yaitu Ki Sastrosabdo. Sejak itu ia mulai mengenal dunia pedalangan di mana Ki Sastrosabdo sebagai gurunya. Bahkan karena jasa-jasanya membuat banyak kreasi baru bagi grup tersebut, Soenarto memperoleh gelar tambahan &#8220;Sabdo&#8221; di belakang nama aslinya. Gelar itu diterimanya pada tahun 1948, sehingga sejak saat itu namanya berubah menjadi Nartosabdo.</p>
<p>Meskipun berasal dari Jawa Tengah, namun Ki Nartosabdo muncul pertama kali sebagai dalang justru di Jakarta, tepatnya di Gedung PTIK yang disiarkan secara langsung oleh RRI pada tanggal 28 April 1958. Lakon yang ia tempilkan saat itu adalah Kresna Duta. Pengalaman pertama mendalang tersebut sempat membuat Ki Narto panik di atas pentas karena pada saat itu pekerjaannya yang sesungguhnya ialah pengendhang grup Ngesti Pandowo</p>
<p>Ki Narto sejak remaja sudah menggemari para dalang ternama, seperti Ki Ngabehi Wignyosoetarno dari Sala dan Ki Poedjosoemarto dari Klaten. Ia juga tekun membaca berbagai buku tua. Kepala Studio RRI waktu itu, Sukiman menawari Ki Narto untuk mendalang, sehingga jadilah pertunjukan di PTIK tersebut.</p>
<p>Penampilan perdana itu langsung mengangkat nama Ki Narto. Berturut-turut ia mendapat kesempatan mendalang di Solo, Surabaya, Yogya, dan seterusnya. Lahir pula cerita-cerita gubahannya, seperti Dasa Griwa, Mustakaweni, Ismaya Maneges, Gatutkaca Sungging, Gatutkaca Wisuda, Arjuna Cinoba, Kresna Apus, dan Begawan Sendang Garba. Semua itu ia dapatkan karena banyak belajar sendiri, tidak seperti dalang lain yang pada umumnya lahir dari keturunan dalang pula, atau ada pula istilah dalang kewahyon (mendapat wahyu).</p>
<p>Karena sering mementaskan lakon carangan Ki Narto pun sering mendapat banyak kritik. Ia juga dianggap terlalu menyimpang dari pakem, antara lain berani menampilkan humor sebagai selingan dalam adegan keraton yang biasanya kaku dan formal. Namun kritikan-kritikan tersebut tidak membuatnya gentar, justru semakin banyak berkarya.</p>
<p>Ki Nartosabdo dapat dikatakan sebagai pembaharu dunia pedalangan di tahun 80-an. Gebrakannya dalam memasukkan gending-gending ciptaannya membuat banyak dalang senior yang memojokkannya. Bahkan ada RRI di salah satu kota memboikot hasil karyanya. Meskipun demikian dukungan juga mengalir antara lain dari dalang-dalang muda yang menginginkan pembaharuan di mana seni wayang hendaknya lebih luwes dan tidak kaku.</p>
<p>Selain sebagai dalang ternama, Ki Narto juga dikenal sebagai pencipta lagu-lagu Jawa yang sangat produktif. Melalui grup karawitan bernama Condong Raos yang ia dirikan, lahir sekitar 319 buah judul lagu (lelagon) atau gending, antara lain Caping Gunung, Gambang Suling, Ibu Pertiwi, Klinci Ucul, Prau Layar, Ngundhuh Layangan, dan Rujak Jeruk.</p>
<p>(wikipedia)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/ki-nartosabdho/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ki Manteb Soedharsono</title>
		<link>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/ki-manteb-soedharsono/</link>
		<comments>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/ki-manteb-soedharsono/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2011 06:56:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusuf.aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pamer]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[dalang manteb]]></category>
		<category><![CDATA[ki manteb]]></category>
		<category><![CDATA[ki manteb soedharsono]]></category>
		<category><![CDATA[manteb]]></category>
		<category><![CDATA[sabetan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pro4.rrisemarang.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Ki.Manteb Soedharsono lahir pada hari Selasa Legi, tanggal 31 Agustus 1948 di Dukuh Jatimalang, Kelurahan Palur, Kecamantan Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah. Ki Manteb lahir dan tumbuh dari keluarga dalang dan dalam darahnya mengalir darah dalang kondang (Dalang Tus), Kakeknya adalah soerang dalang kondang, dan ayahnya, Ki Hardjo Brahim Hardjowijoyo adalah seorang dalang yang pada masa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_42" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/09/ki-mantep.jpg"><img class="size-medium wp-image-42" title="ki mantep" src="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/09/ki-mantep-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd"></dd>
</dl>
</div>
<p>Ki.Manteb Soedharsono lahir pada hari Selasa Legi, tanggal 31 Agustus 1948 di Dukuh Jatimalang, Kelurahan Palur, Kecamantan Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah. Ki Manteb lahir dan tumbuh dari keluarga dalang dan dalam darahnya mengalir darah dalang kondang (Dalang Tus), Kakeknya adalah soerang dalang kondang, dan ayahnya, Ki Hardjo Brahim Hardjowijoyo adalah seorang dalang yang pada masa kejayaannya cukup disegani, sedangkan ibunya adalah pesinden dan pengrawit yang berpengalaman.</p>
<p>Sejak kecil Ki Manteb Soedharsono sangat rajin dan tekun mengikuti pementasan orang tuanya. Pengalaman masa kecilnya yang begitu akrab dengan seluk-beluk dunia pewayangan telah membentuk pribadi Ki manteb kaya akan memori dunia pertunjukan wayang kulit. Kedisiplinan sang ayah dalam mendidiknya, menjadikan kemampuan dan ketrampilan Manteb kecil terus berkembang. Pada saat usianya 5 tahun ia sudah dapat memainkan wayang dan manabuh beberapa instrument gamelan seperti demung, bonang dan kendang. Menatah wayangpun diajarkan oleh Ki Hardjo Brahim kepadanya. Tak heran jika pada usianya menginjak 10 tahun Ki Manteb sudah mampu menatah wayang kulit dengan bagus.</p>
<p>Tuntutan dan tantangan dari ayahnya untuk meneruskan garis dinasti dalang kondang, memacu Ki Manteb muda berjuang keras dan berlatih, dibarengi dengan proses tirakat laku bathin yang dilakoninya dengan sungguh-sungguh dan total. Pada usianya yang relatif muda (14 tahun) Ki Manteb telah mampu menguasai seluruh instrument musik gamelan. Ia-pun pernah dikenal sebagai tukang kendang cilik yang mumpuni dan sering mengiringi pertunjukan wayang yang digelar oleh dalang sepuh, Ki Warsino dari Baturetno, Wonogiri. Kesempatan itupun Ia manfaatkan untuk menimba ilmu pedalangan dari Ki Warsino. Disamping ia juga banyak berguru pada dalang-dalang senior lainnya seperti: maestro sanggit Ki Narto Sabdo dan Ki Sudarman Gondodarsono yang ahli sabet.</p>
<p>Ki Manteb Soedharsono, pada usia 18 tahun mulai menjalani profesinya sebagai dalang. Kematangan sabet dan penguasaannya pada musik gamelan menjadikan kariernya sebagai dalang melesat cepat. Pada tahun 1982 Ki Manteb menjuarai Festival Pakeliran Padat se-Surakarta. Prestasi tersebut membuat namanya semakin bersinar. Ketrampilannya memainkan sabet yang akrobatik, spektakuler, indah dan menghibur mengantarkan kesuksesannya menjadi dalang kondang dengan sebutan “Dalang Setan”. Dalam setiap pertunjukannya, Ki Manteb tampil dengan pakeliran wayang kulit klasik, tetapi kaya akan inovasi, indah, segar dan actual. Ia adalah pelopor dalam melakukan inovasi-inovasi dalam hal visualisasi,. Ki Manteb sangat mahir dalam menciptakan bahasa gerak wayang melalui sabet yang cerdas, segar dan sensasional sehingga bayangan wayang yang tercipta dalam kelir menjadi lebih memikat pandangan mata. misalkan gaya sabet dalam visualisasi peperangan, menari ataupun gerak sabet layaknya gerak keseharian yang berjiwa.</p>
<p>Berbagai unsur pertunjukan modern telah diadopsinya untuk memperkaya nuansa pakeliran tanpa menghilangkan kekentalan essensi dan nuansa Jawa. Dan ruang artistic kelirpun semakin indah dan dinamis dengan dukungan kreativitas tata cahaya yang digarap secara khusus. Dalam aspek musik iringan, Ki Manteb adalah inisiator dengan menghadirkan peralatan musik modern ke atas pentas, misalnya tambur, biola, terompet, ataupun simbal yang menjadikan pertunjukan wayang kulit manjadi lebih atraktif dan dinamis.</p>
<p>Meskipun menekankan pada aspek keindahan visual namun pakeliran gaya Ki Manteb pada akhirnya tidak saja tampil sebagai tontonan yang menghibur tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk melakukan dialog reflektif dengan kenyataan hidup yang dihadapi bersama, sarat dengan pesan-pesan moral baik berupa kritik-kritik terhadap pemerintah dan masyarakat, maupun harapan-harapan yang mendorong semangat optimistic bagi masyarakat penontonnya Dalam setiap kali pertunjukannya, Ki Manteb selalu mencoba memaknai dan menafsir ulang lakon yang disajikan. Tak jarang juga Ki Manteb mengadopsi pola penyusunan alur dramaturgi film dalam lakon-lakon wayangnya, seperti penggunakan alur flashback. Penyusunan plot cerita yang kontekstual dengan isu-isu atau kondisi yang sedang berkembang di masyarakat menjadikan pertunjukakanya selalu up to date.</p>
<p>Kreativitas dan inovasi-inovasi yang intens dilakukan Ki Manteb mampu membawa pertunjukan wayangnya menjadi pertunjukan akbar yang tonton oleh ribuan orang. Popularitas yang luar biasa itulah yang mengilhami sebuah produk obat “ Oskadon” menjadikan Ki Manteb sebagai brand image untuk mendongkrak omzet penjualan. dengan jargon “Oskadon Pancen Oye”, Dan hasilnya sangat fantastis, kenaikan omzet pemasaran hingga lebih dari 400%. Kerjasama yang telah berlangsung dari tahun 1990 hingga sekarang membuat produk tersebut sangat lekat dengan image Ki Manteb. Julukan “Dalang Oye” pun diberikan masyarakat kepadanya.</p>
<p>Dan puncak popularitas itu masih bertahan hingga kini. Masyarakat penontonnya tersebar di berbagai daerah di Indonesia, tidak hanya di pulau Jawa namun juga di luar Jawa. Sudah ribuan pementasan Ia gelar dengan berbagai maksud dan kepentingan, seperti untuk acara Ruwatan, pesta hajatan, kampanye politik ataupun gelaran pentas untuk menyosiakisaikan beragam program pemerintah seperti Keluarga Berencana (KB), Anti HIV Aids dan Narkoba, sosialisasi pemilu dan lain-lain. Dari sekian banyak lakon yang pernah ia mainkan, beberapa lakon menjadi sangat fenomenal, seperti “Banjaran Bima”,“Ciptoning”, “Wiratha Parwa”, “Dewa Ruci”, dan lain-lain. Sebuah lakon special “Celeng Degleng” adalah merupakan lakon carangan Ki Manteb sendiri ketika mengintepretasi lukisan-lukisan karya Djoko Pekik “Berburu Celeng” yang menggambarkan tumbangnya rezim Soeharto.</p>
<p>Beberapa pertunjukan wayang kulit di luar negeri pun pernah Ki Manteb lakukan seperti di Amerika Serikat, Spanyol, Jerman, Jepang, Suriname, Belanda, Perancis,Belgia,Hongaria dan Austria. Dan ketika kesenian wayang ditetapkan oleh UNESCO sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible of Heritage of Humanity, Ki Manteb terpilih mewakili komunitasan dalang indonesia untuk menerima penghargaan tersebut.</p>
<p>Beberapa penghargaanpun pernah diterima oleh Ki Manteb. Pada Tahun 1995 Ia mendapat penghargaan dari Presiden Soeharto berupa Satya Lencana Kebudayaan, kemudian pada tahun 2004 Ki Manteb memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) karena kegemilangannya mendalang selama 24 jam 28 menit tanpa istirahat. Dan pada tahun 2010 penghargaan “Nikkei Asia Prize Award 2010” dalam bidang kebudayaan.dianugerahkan kepada Ki Manteb Soedharsono karena kontribusinya yang signifikan bagi kelestarian dan kemajuan kebudayaan Indonesia terutama wayang kulit.</p>
<p>Dalam proses berkarya seni pakeliran, Ki Manteb sangat terbuka dalam menyikapi aturan baku. Menurutnya aturan baku dapat berubah asal dalam merubahnya tetap menganut pada aspek kepatutan terhadap kewajaran irama hidup dan tetap pula patuh dan menghormati nilai-nilai yang terbawa dalam kehidupan. Dan sikap terbuka itulah yang ia yakini akan selalu menciptakan arus pembaharuan di dunia wayang kulit. Dan kreatifitas dan inovasi yang telah diciptakan oleh Ki Manteb Soedharsono telah menunjukkan pengaruh besar sekali terhadap arah perkembangan seni pertunjukan wayang kulit. Kreasi-kreasinya banyak dianut dan menjadi pusat inspirasi bagi dalang-dalang yang lebih muda. Kekayaan ilmu, pengalaman berpentas dan pengembaraan kreatifnya bak mata air tak surut untuk dibagi.</p>
<p><a href="http://www.kimanteb-oye.com">sumber </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/ki-manteb-soedharsono/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tembang Kinanthi</title>
		<link>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/tembang-kinanthi/</link>
		<comments>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/tembang-kinanthi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2011 06:49:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusuf.aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tembang]]></category>
		<category><![CDATA[kinanthi]]></category>
		<category><![CDATA[tembang jawa]]></category>
		<category><![CDATA[tembang kinanthi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pro4.rrisemarang.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Mangka kanthining tumuwuh Salami mugn awas eling Eling lukitaning alam Dadi wiryanbing dumadi Supadi nir ing sangsaya Yeku pangreksaning urip Marma den taberi kulup Angulah lantiping ati Rina wengi den anedya Pandak-pandukung pambudi Mbengkas kardaning driya Supadya dadya utami Pangasahe sepi samun Away esah ing salami Samangsa wis kawistara Lalandhepe mingis-mingis Pasah wukir Reksamuka Kekes [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_32" class="wp-caption alignright" style="width: 310px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/09/gender.jpg"><img class="size-medium wp-image-32" title="gender" src="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/09/gender-300x190.jpg" alt="" width="300" height="190" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd"></dd>
</dl>
</div>
<p>Mangka kanthining tumuwuh<br />
Salami mugn awas eling<br />
Eling lukitaning alam<br />
Dadi wiryanbing dumadi<br />
Supadi nir ing sangsaya<br />
Yeku pangreksaning urip</p>
<p>Marma den taberi kulup<br />
Angulah lantiping ati<br />
Rina wengi den anedya<br />
Pandak-pandukung pambudi<br />
Mbengkas kardaning driya<br />
Supadya dadya utami</p>
<p>Pangasahe sepi samun<br />
Away esah ing salami<br />
Samangsa wis kawistara<br />
Lalandhepe mingis-mingis<br />
Pasah wukir Reksamuka<br />
Kekes srabedaning budi</p>
<p>Dene awas tegesipun<br />
Weruh waranane urip<br />
Miwah wisesaning tunggal<br />
Kang atunggil rina wengi<br />
Kang mukitan ing sakarsa<br />
Gumelar ngalam sakalir</p>
<p>Aywa sembrana ing kalbu<br />
Wawasen wuwusireki<br />
Ing kono yekti karasa<br />
Dudu ucape pribadi<br />
Marma den sambadeng sedya<br />
Wewesan praptaning uwis</p>
<p>Simakna semanging kalbu<br />
Den waspada ing pangeksi<br />
Yeku dalaning kasidan<br />
Sinuda saka sathithik<br />
Pamothaning napsu-hawa<br />
Linalatiha mamrih titih</p>
<p>Aywa mamatuh nalutuh<br />
Tanpa tuwas tanpa kasil<br />
Kasalibuk ing sabeda<br />
Marma dipun ngati-ati<br />
Urip keh rencananira<br />
Sambekala lan kaliling</p>
<p>Upamane wong lumaku<br />
Marga gawat den liwati<br />
Lamung kurang ing pangarah<br />
Sayekti karendhet ing ri<br />
Apese kasandhung padhas<br />
Babak-bundhas anemahi</p>
<p>Lumrah bae yen kadyeku<br />
Atatamba yen wis bucik<br />
Duwea kawruh sabodhang<br />
Yen tan nartani ing kapti<br />
Dadi kawruhe kinarya<br />
Ngupaha kasil lan melik</p>
<p>Meloke yen arsa muluk<br />
Muluk ujare lir wali<br />
Wola-wali nora nyata<br />
Anggepe pandhita luwih<br />
Kaluwihane tan ana<br />
Kabeh tandha-tandha sepi</p>
<p>Kawruhe mung ana wuwus<br />
Wuwuse gumaib-baib<br />
Kasliring thithik tan kena<br />
Mancereng alise gathik<br />
Apa pandhita antiga<br />
Kang mangkono iku kaki</p>
<p>Mangka ta kang aran laku<br />
Lakune ngelmu sejati<br />
Tan dahwen pati openan<br />
Tan panasten nora jail<br />
Tan njuringi ing kaardan<br />
Amung eneng mamrih ening</p>
<p>Kaunang ing budi luhur<br />
Bangkit ajur ajer kaki<br />
Yen mangkono bakal cikal<br />
Thukul wijining utami<br />
Nadyang bener kawruhira<br />
Yen ana kang nyulayani</p>
<p>Tur kang nyulayani iku<br />
Wus wruh yen kawruhe nempil<br />
Nanging laire angalah<br />
Katingala angemori<br />
Mung ngenaki tyasing liyan<br />
Aywa esak, aywa serik.</p>
<p>Yen ilapating wahyu<br />
Yen yuwana ing salami<br />
Marga wimbubing nugraha<br />
Saking Heb Kang Mahasuci<br />
Cinancang pucuking cipta<br />
Nora ucul-ucul kaki<br />
Mangkono ingkang tinamtu<br />
Tanpa nugrahaning Widhi<br />
Marma ta kulup den bisa<br />
Mbusuki ujaring janma<br />
Pakoleh lair batine<br />
Iyeku budi premati</p>
<p>Pantes tinulad tinurut<br />
Laladane mrih utami<br />
Utama kembanging mulya<br />
Kamulyaning jiwa dhiri<br />
Ora kena yen ta ngeplekana<br />
Lir leluhur nguni-uni</p>
<p>Ananing ta kudu-kudu<br />
Sakadarira pribadi<br />
Aywa tinggal tutuladhan<br />
Lamun tan mangkono kaki<br />
Yekti tuna ing tumitah<br />
Poma kestokena kaki.</p>
<p>(Serat Wedhatama)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/tembang-kinanthi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tembang Gambuh</title>
		<link>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/tembang-gambuh/</link>
		<comments>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/tembang-gambuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2011 06:47:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusuf.aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tembang]]></category>
		<category><![CDATA[gambuh]]></category>
		<category><![CDATA[tembang gambuh]]></category>
		<category><![CDATA[tembang jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pro4.rrisemarang.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Samengko ingsun tutur Sembeh catur supaya lumuntur Dhihin: raga, cipta, jiwa, rasa, kaki Ing kono lamun tinemu Tandha nugrahaning manon Sembah raga puniku Pakartine wong amagang laku Susucine asarana saking warih Kang wus lumrah limang wektu Waktu wataking wawaton Ing uni-uni durung Sinarawung wulang kang sinerung Lagi iki bangsa kas ngetokken anggit Mintokken kawignyanipun Sarengate [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_32" class="wp-caption alignright" style="width: 310px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/09/gender.jpg"><img class="size-medium wp-image-32" title="gender" src="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/09/gender-300x190.jpg" alt="" width="300" height="190" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd"></dd>
</dl>
</div>
<p>Samengko ingsun tutur<br />
Sembeh catur supaya lumuntur<br />
Dhihin: raga, cipta, jiwa, rasa, kaki<br />
Ing kono lamun tinemu<br />
Tandha nugrahaning manon</p>
<p>Sembah raga puniku<br />
Pakartine wong amagang laku<br />
Susucine asarana saking warih<br />
Kang wus lumrah limang wektu<br />
Waktu wataking wawaton</p>
<p>Ing uni-uni durung<br />
Sinarawung wulang kang sinerung<br />
Lagi iki bangsa kas ngetokken anggit<br />
Mintokken kawignyanipun<br />
Sarengate elok-elok</p>
<p>Thithik kaya santri Dul<br />
Gajeg kaya santri brai kidul<br />
Saurute Pacitan pinggir pasisir<br />
Ewon wong kang padha nggugu<br />
Anggere guru nyalemong</p>
<p>Kasusu arsa weruh<br />
Cahyaning Hyang kinira yen karuh<br />
Ngarep-arep kurub arsa den kurebi<br />
Tan wruh kang mangkono iku<br />
Akale kaliru enggon</p>
<p>Yen ta jaman rumuhun<br />
Tata, titi tumrah-tumaruntun<br />
Bangsa srengat tan winor lan laku batin<br />
Dadi ora gawe bingung<br />
Kang padha nembah Hyang Manon</p>
<p>Lire sarengat iku<br />
Kena uga ingaran laku<br />
Dhihin ajeg, kapindhone ataberi<br />
Pakolehe putraningsun<br />
Nyenyeger badan mrih kaot</p>
<p>Wong seger badanipun<br />
Otot daging kulit balung sungsum<br />
Trumah ing rah mamarah antenging ati<br />
Antenging ati nunungku<br />
Agruwat ruweting batos</p>
<p>Mangkono mungguh ingsun<br />
Ananging ta sarehne asnapun<br />
Beda-beda panduk panduning dumadi<br />
Sayektine nora jumbuh<br />
Tekad kang padha linakon</p>
<p>Nanging ta paksa tutur<br />
Rehning tuwa tuwase mung catur<br />
Mbok lumuntur lantaraning reh utami<br />
Sing sapa temen tinemu<br />
Nugraha geming kaprabon</p>
<p>Samengko sembah kalbu<br />
Yen lumintu uga dadi laku<br />
Laku agung kang kagungan Narapati<br />
Patitis tetesing kawruh<br />
Meruhi marang kang momong</p>
<p>Sucine tanpa banyu<br />
Mung nyunyuda mring hardaning kalbu<br />
Pambukane: tata, titi, ngati-ati<br />
Atetep, taleten, atul<br />
Tuladhan marang waspaos</p>
<p>Mring jatining pandulu<br />
Panduk ing ndon dadalan satuhu<br />
Lamun lugu legutaning reh maligi<br />
Lagehane tumalawung<br />
Wenganing alam kinaot</p>
<p>Yen wis kambah kadyeku<br />
Sarat sareh saniskareng laku<br />
Kalakone saka eneng, ening, eling<br />
Ilanging rasa tumlawung<br />
Kono adile Hyang Manon</p>
<p>Gagare ngunggar kayun<br />
Tan kayungyun mring ayuning kayun<br />
Bangsa anggit yen ginigit nora dadi<br />
Marma den awas, den emut<br />
Mring pamuringing lelakon</p>
<p>Samengko kang tinutur<br />
Sembah katri kang sayekti katur<br />
Mring Hyang Sukma sukmanen sari-ari<br />
Arahen dipun kacakup<br />
Sembah ing jiwa sutenggong</p>
<p>Sayekti luwih parlu<br />
Ingaran kang tumrap bangsaning batin<br />
Kalakuan kang tumrap bangsaning batin<br />
Sucine lan awas emut<br />
Mring alame lama amot</p>
<p>Ruktine ngangkah ngukut<br />
Ngiket ngruket triloka kakukut<br />
Jagad agung ginulung lan jagad cilik<br />
Den kandel kumandel, kulup<br />
Mring kelaping alam kono</p>
<p>Keleme mawa limut<br />
Kalamutan jroning alam kanyut<br />
Sanyatane iku kanyatan kaki<br />
Sajatine yen tan emut<br />
Sayekti tan bisa awor</p>
<p>Pamete saka luyut<br />
Sarwa sareh saliring panganyut<br />
Lamun yitna kayitnan kang miyatani<br />
Tarlen mung pribadinipun<br />
Kang katon tinonton kono</p>
<p>Nging aywa salah surup<br />
Kono ana sajatining urub<br />
Yeku urub pangarep uriping budi<br />
Sumirat-sirat narawung<br />
Kadya kartika katonton</p>
<p>Yeku wenganing kalbu<br />
Kabukane kang wengku-winengku<br />
Wewangkone wis kawengku neng sireku<br />
Nging sira uga kawengku<br />
Mring kang pindha kartika byor</p>
<p>Samengko ingsun tutur<br />
Santya sembah ingkang kaping catur<br />
Sembah rasa karasa rosing dumadi<br />
Dadine wis tanpa tuduh<br />
Mung kalawan kasing batos</p>
<p>Kalamun durung lugu<br />
Aja pisan wani ngaku-aku<br />
Antuk siku kang mangkono iku kaki<br />
Kena uga wenang muluk<br />
Kalamun wus padha melok</p>
<p>Meloke ujar iku<br />
Yen wus ilang sumelanging kalbu<br />
Amung kandel-kumandel ngandel mring takdir<br />
Iku den awas den emut<br />
Den memet yen arsa momot</p>
<p>Pamoting ujar iku<br />
Kudu santosa ing budi teguh<br />
Sarta sabar tawakal legaweng ati<br />
Trima lila ambek sadu<br />
Weruh wekasing dumados</p>
<p>Sabaran tindak-tanduk<br />
Timindake lan sakadaripun<br />
Den ngaksama kasisipaning sasami<br />
Sumimpanga ing laku dur<br />
Ardaning budi kang ngrodon</p>
<p>Dadya wruh: iya dudu<br />
Yeku minongka pandaming kalbu<br />
Ingkang mbuka ing kijabullah agaib<br />
Sesengkeren kang sinerung<br />
Dumunung telenging batos</p>
<p>Rasaning urip iku<br />
Krana momor pamoring sawujud<br />
Wujudullah sumrambah ngalam sakalir<br />
Lir manis kalawan madu<br />
Endi arane ing kono</p>
<p>Endi manis ndi madu<br />
Yen wis bisa muksmeng pasang semu<br />
Pasamuwaning Heb Ingkang Mahasuci<br />
Kasikep ing tyas kacakup<br />
Kasatmata lair batos</p>
<p>Ing batin tan kaliru<br />
Kedhap kilap liniling ing kalbu<br />
Kang minongka colok celaking Hyang Widhi<br />
Widadaning budi sadu<br />
Pandak-panduking liru nggon</p>
<p>Nggonira mamrih tulus<br />
Kalasitaning reh kang rinuruh<br />
Nggayanira mrih wiwah warananing gaib<br />
Paran ta lamung tan weruh<br />
Sasmita jatining endhog</p>
<p>Putih lan kuningipun<br />
Lamun arsa titah teka mangsul<br />
Dene nora mantra-mantra yeng ing lahir<br />
Bisoa aliru wujud<br />
Kadadeyane ing kono</p>
<p>Istingarah tan metu<br />
Lawan istingarah tan lumebu<br />
Dene ing njro wekasane dadi anjawi<br />
Rasakena kang tuwayuh<br />
Aja konsi kabesturon</p>
<p>Karana yen kabanjur<br />
Kajantaka tumekeng saumur<br />
Tanpa tuwas yen tiwasa ing dumadi<br />
Dadi wong ina tan weruh<br />
Dheweke den anggep dhayoh.</p>
<p>(Serat Wedhatama)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/tembang-gambuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tembang Pocung</title>
		<link>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/tembang-pocung/</link>
		<comments>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/tembang-pocung/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2011 06:42:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusuf.aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tembang]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[pocung]]></category>
		<category><![CDATA[tembang jawa]]></category>
		<category><![CDATA[tembang pocung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pro4.rrisemarang.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Ngelmu iku Kalakone kanthi laku Lekase lawan kas Tegese kas nyantosani Setya budaya pangekese dur angkara Angkara gung Neng angga aggung gumulung Gogolonganira Triloka lekere kongsi Yen den umbar ambabar dadi rubeda Bada lamun Kang sus sengsem reh ngasamun Semune ngaksama Sasamane bangsa sisip Sarwa sareh saking mardi martotama Taman limut Durgameng tyas kang weh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_32" class="wp-caption alignright" style="width: 310px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/09/gender.jpg"><img class="size-medium wp-image-32" title="gender" src="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/09/gender-300x190.jpg" alt="" width="300" height="190" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd"></dd>
</dl>
</div>
<p>Ngelmu iku<br />
Kalakone kanthi laku<br />
Lekase lawan kas<br />
Tegese kas nyantosani<br />
Setya budaya pangekese dur angkara</p>
<p>Angkara gung<br />
Neng angga aggung gumulung<br />
Gogolonganira<br />
Triloka lekere kongsi<br />
Yen den umbar ambabar dadi rubeda</p>
<p>Bada lamun<br />
Kang sus sengsem reh ngasamun<br />
Semune ngaksama<br />
Sasamane bangsa sisip<br />
Sarwa sareh saking mardi martotama</p>
<p>Taman limut<br />
Durgameng tyas kang weh limput<br />
Karem ing karamat<br />
Karana karoban ing sih<br />
Sihing sukma ngreda sahardi gengira</p>
<p>Yeku patut<br />
Tinulad-tulad tinurut<br />
Sapituduhira<br />
Aja kaya jaman mangkin<br />
Keh pra mudha mundhi diri lapal makna</p>
<p>Durung pecus<br />
Kesusu kaselak besus<br />
Amaknani lapal<br />
Kaya sayid weton mesir<br />
Pendak-pendhak mengendhok gunaning janma</p>
<p>Kang kadyeku<br />
Kalebu wong ngaku-aku<br />
Akale alangka<br />
Elok jawane den mohi<br />
Paksa ngangkah langkah met kawruh ing Mekah</p>
<p>Nora weruh<br />
Rosing rasa kang rinuruh<br />
Lumeketing angga<br />
Anggere padha marsudi<br />
Kana-kene kaanane nora beda</p>
<p>Uger lugu<br />
Den ta mrih pralebdeng kalbu<br />
Yen kabul kabuka<br />
Ing drajad kajating urip<br />
Kaya kang wus winahyeng sekar Srinata</p>
<p>Basa ngelmu<br />
Mupakate lan panemu<br />
Pasahe lan tapa<br />
Yen satriya tanah Jawi<br />
Kuna-kuna kang ginilut tri-prakara</p>
<p>Lila lamun<br />
Kelangan nora gegetun<br />
Trima yen kataman<br />
Sakserik sameng dumadi<br />
Tri legawa nalangsa srah ing Bathara</p>
<p>Bathara Gung<br />
Inguger &#8216;graning jajantung<br />
Jenek Hyang Wisesa<br />
Sana pasenbedan suci<br />
Nora kaya si mudha mudhar angkara</p>
<p>Nora uwus<br />
Kareme anguwus-uwus<br />
Uwose tan ana<br />
Mung janjine muring-muring<br />
Kaya buta muteng betah nganiaya</p>
<p>Sakeh luput<br />
Ing angga tansah linimput<br />
Linimpat ing sabda<br />
Narka lan ana udani<br />
Lumuh ala ardane ginawe gada</p>
<p>Durung punjul<br />
Ing kawruh kaselak jukul<br />
Kaseselan hawa<br />
Cepet kapepetan pamrih<br />
Tangeh nedya anggambuh mring Hyang Wisesa</p>
<p>Diambil dari Serat Wedhatama</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/tembang-pocung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KI JOKO &#8220;EDAN&#8221; HADIWIDJOYO</title>
		<link>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/ki-joko-edan-hadiwidjoyo/</link>
		<comments>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/ki-joko-edan-hadiwidjoyo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 06:36:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusuf.aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pamer]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[dalang]]></category>
		<category><![CDATA[dalang edan]]></category>
		<category><![CDATA[hoko hadiwidjoyo]]></category>
		<category><![CDATA[joko edan]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pro4.rrisemarang.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Ki Joko Edan bernama asli Joko Prasojo. Kemudian ada nama lain, yang didapatkan setelah menikah, yaitu Joko Hadiwidjoyo. Sehingga sampai saat dini dikenal dengan sebutan Ki Dalang Joko Edan Hadiwidjoyo. Ki Joko Edan adalah seorang seniman wayang kulit atau lebih familiar disebut dalang dari kota Semarang. Pria ini lahir di Jogja, 20 Mei 1948. Kiprahnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_24" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/09/joko-edan.jpg"><img class="size-medium wp-image-24" title="joko-edan" src="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/09/joko-edan-300x210.jpg" alt="" width="300" height="210" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd"></dd>
</dl>
</div>
<p>Ki Joko Edan bernama asli Joko Prasojo. Kemudian ada nama lain, yang didapatkan setelah menikah, yaitu Joko Hadiwidjoyo. Sehingga sampai saat dini dikenal dengan sebutan Ki Dalang Joko Edan Hadiwidjoyo. Ki Joko Edan adalah seorang seniman wayang kulit atau lebih familiar disebut dalang dari kota Semarang. Pria ini lahir di Jogja, 20 Mei 1948. Kiprahnya pada dunia seni pantas dibilang luar biasa. Pernyataan ini terbukti dari begitu banyaknya penghargaan yang telah ia dapatkan. Salah satu prestasi yang membanggakan ialah nama dirinya tercatat di Museum Rekor Indonesia sebagai sutradara pertunjukan wayang kulit yang diisi dan atau diikuti oleh 34 (tiga puluh empat) kelompok seni, yang pada waktu itu pertunjukan tersebut digelar di Gedung Wali Kota Semarang pada Juli 2005 lalu.</p>
<p>Joko adalah suami dari Nurhana (penyanyi), dan dari hasil pernikahan ini lahirlah dua orang putri bernama Rahayu Hana Wijayanti dan Dewi Lestari Hana Wijayanti. Kedua putrinya ini walau masih kecil-kecil namun menurut pengakuan ayahnya sudah mulai terlihat bakat-bakat seninya apalagi di dunia computer, sangatlah suka. Terutama pada anaknya yang nomer dua, sudah sering meraih juara di berbagai perlombaan menyanyi. Tentu saja ini merupakan anugerah yang patut mereka syukuri.</p>
<p>Ki Joko bercerita bahwa dirinya sejak dalam perut sudah dibiasakan oleh sang ayah dikenalikan dunia pewayangan. Kebetulan sang ayah dari dulu adalah pecinta wayang kulit yang luar biasa, meski tak bisa mendalang. Dan lahirlah Joko yang akhirnya terbiasa dan senang juga dengan kesenian ini. Saat kecil dirinya suka menggambar-gambar wayang saat sekolah SD. Terlebih lagi Joko sangat senang bila ada kesempatan menonton pertunjukan wayang saat itu. Hingga jadilah saat ini dirinya menjadi dalang kondang, yah,… Ki Joko Edan yang juga sebagai sang penggagas acara Festival Sanggit Dalang Se-Jawa Tengah di RRI Semarang beberapa waktu lalu .</p>
<p>Ki Joko menamatkan sekolahnya hanya sampai di bangku Sekolah Dasar. Dirinya memilih lari dari bangku sekolah karena saat kelas dua SMP sempat tidak naik kelas sebanyak dua kali. Lepas dari sekolah, pria ini melanjutkan perjalanan hidupnya sebagai anak jalanan. Setelah merasa puas mendapat pengalaman macam-macam, dirinya dinasehati sang ayah dan diberi motifasi penuh untuk kembali belajar. Joko mendapat arahan untuk ikut kursus pedalangan di Ngesti Bhudaya. Pria ini mengikuti kursus tersebut selama tiga tahun.</p>
<p>Baru saja menyelesaikan tahun pertamanya di kursus Pedalangan Ngesti Bhudaya dirinya sudah mulai suka lari dari jadwal belajar yang ditentukan. Dirinya lebih memilih untuk sering-sering melihat dan mengikuti praktek pertunjukan langsung dari dalang-dalang kondang. Kemudian dari hasil banyak mengamati itu akhirnya Joko lebih mahir mendalang dan mencoba-coba berpraktek walau belum kelar betul belajarnya. Ternyata setelah dia coba, hasilnya adalah terlaksana dengan baik. Setelah itu kecintaannya semakin besar lagi pada dunia wayang ini. Pertama kali ia praktek mendalang, yaitu di rumahnya sendiri pada saat ayahnya mengadakan acara Suronan untuk warga sekitar di tempatnya. Kemudian lagi pertama kali dalang ia jalani sebagai profesi (menghasilkan materi/ ditanggap), yaitu di Tengaran, Salatiga pada acara resepsi pernikahan.</p>
<p>Tokoh wayang yang menjadi idola Joko Edan adalah Rahwana. Alasan dirinya menyukai Rahwana, yaitu Rahwana merupakan sosok seorang raja yang full comitmen, berprinsip kuat, berani mengambil resiko tinggi, dan tak kenal menyerah dalam pencapaian cita-citanya. Sedang cerita wayang favoritnya adalah Mahabarata, sebab kandungan cerita ini sangat kompleks, di mana ada unsur politik, ketatanegaraan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Dari usia enam belas tahun sampai sekarang, tentunya KI Joko Edan sudah punya banyak sekali pengalaman-pengalaman mendalang. Dikatakan, ada cerita menarik, yaitu pengalaman berkesan dari dirinya. Saat itu Joko sedang ditanggap oleh Bibit Waluyo (sekarang Gubernur Jateng), kemudian Joko mengibaratkannya sebagai Bima, dalam jalan ceritanya ini digariskan ternyata Bima bukanlah orang yang berhak mendapat wahyu, dan kagetlah semua penonton yang hadir dalam acara hajatanya Bibit tersebut, namun dilanjutkan lagi ceritanya oleh Joko memang bukanlah Bima nama yang keluar, yang muncul dan pantas sebagai penerima wahyu adalah namanya langsung yaitu Bibit waluyo. Joko sangat senang sekali sempat sesaat membuat pejabat itu dikerjai dan berhasil membuat candaan yang menegangkan. Ada lagi pengalaman berkesan lainnya, yaitu saat dirinya tampil di daerah transmigran, yaitu di Siting, Padang. Saat itu cuaca hujan deras dan banjir lumpur lumayan tinggi, tapi penonton yang hadir begitu banyak dan membludak. Ki Joko Edan tampil di antara Persatuan masyarakat Jawa di Padang. Mungkin besar rasa rindu mereka terhadap kebudayaan asli daerahnya. Karena meski berdomisili lama di Padang, orang-orang tersebut adalah aslinya orang Jawa. Dengan melihat antusias yang sedemikian luar biasanya, Ki Joko pun berdalang dengan rasa bangga dan semangat yang besar.</p>
<p>Selain mendalang, Ki Joko Edan juga menguasai seni lain, yaitu musik. Pria ini trampil memainkan alat musik apapun kecuali biola, begitu menurut pengakuannya. Sedang kalau seni lukis dia berterus terang tidak bisa dan kemudian jadi tidak terlalu senang.</p>
<p>Dalam menjalankan pagelaran wayangnya Ki Joko Edan membawa 64 personil yang teergabung dengan nama “Wijoyo Laras”. Personil tersebut terdiri dari pengendang/pengrawit dan suarawati/pesinden. Dalam membantu acara – acara tidak hanya wayang kulit tetapi juga campursari. Untuk harga/tarif memang bukan tujuan utamanya, namun Ki Joko merasa bangga dan bahagia jika bisa bersama dan menghibur masyarakat, sedangkan Pagelaran untuk luar kota disesuaikan jarak dan biaya transportasinya.Walau demikian dengan seni semua itu tetap saja terasa indah, namun bermanfaat dan mengajak berfikir berbagai pihak terutama yang melihat pagelaran wayangnya tersebut.</p>
<p>Dirinya adalah sosok seniman yang besar sekali kepeduliannya terhadap generasi muda bangsa. Akhir-akhir ini dirinya sering diundang dalam acara seminar-seminar kampus dan sarasehan-saresan budaya. Seminar-seminar ini terutama membicarakan tentang budaya dan kekayaan bangsa. Dirinya sangat tidak suka bila ada yang meremehkan budaya Indonesia. Joko prihatin sekali bila melihat anak-anak muda sekarang yang justru senang dan antusias terhadap budaya barat yang kadang jauh dari norma-norma ketimuran.</p>
<p>Dirinya pun berucap prihatin terhadap generasi muda yang selalu ribut mengantri kerja setelah lulus, bahkan telah bertitel segala macam. Dirinya berpesan bahwa berhentilah menghabis-habisi peluang/lowongan kerja tapi justru cobalah untuk membuka peluang-peluang kerja itu, untuk diri sendiri bahkan dapat untuk orang lain juga. “Hentikan segera budaya kuli”, kira-kira demikian inti penuturannya.</p>
<p>Oleh : Hr. Pragota (Pecinta Seni Pedalangan Semarang)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/ki-joko-edan-hadiwidjoyo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ambengan Sega Kuluban</title>
		<link>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/ambengan-sega-kuluban/</link>
		<comments>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/ambengan-sega-kuluban/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2011 15:47:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arfon.aljawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Geguritan]]></category>
		<category><![CDATA[Pamer]]></category>
		<category><![CDATA[ambengan]]></category>
		<category><![CDATA[geguritan]]></category>
		<category><![CDATA[kuluban]]></category>
		<category><![CDATA[sega]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pro4.rrisemarang.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Ambengan sega kuluban dieler ing tampah diladekake ing pasamunan direncah bebarengan, kroyokan, rebutan ambengan sega kuluban oora ana sing ngerti duweke sapa kejaba dadi pangane wayang , para dhalang sing lagi lungguh methingkring (kidang lan trewelu, kinjeng lan kupu mung bisa nyawang sinambi ngeleg idu) ambengan sega kuluban, wis gusis dienggo pesta mung kari tampah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl>
<dt><a href="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/09/wayang.jpg"><img class="size-medium wp-image-21" src="http://pro4.rrisemarang.com/wp-content/uploads/2011/09/wayang-300x196.jpg" alt="" width="300" height="196" /></a></dt>
<dd></dd>
</dl>
</div>
<p>Ambengan sega kuluban dieler ing tampah<br />
diladekake ing pasamunan<br />
direncah bebarengan, kroyokan, rebutan</p>
<p>ambengan sega kuluban<br />
oora ana sing ngerti duweke sapa<br />
kejaba dadi pangane wayang , para dhalang<br />
sing lagi lungguh methingkring</p>
<p>(kidang lan trewelu, kinjeng lan kupu mung bisa nyawang sinambi ngeleg idu)</p>
<p>ambengan sega kuluban, wis gusis dienggo pesta<br />
mung kari tampah ngganda amis, angganda amis<br />
banjur kanggoo bal-balan para buta!</p>
<p><a href="http://karodalnet.blogspot.com/2011/05/contoh-geguritan.html">karodalnet</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pro4.rrisemarang.com/static/2011/ambengan-sega-kuluban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

